Damarulan/Damarwulan Banjarmasin

Damarulan/Damarwulan Banjarmasin

Seni Pertunjukan Kota Banjarmasin

Identifikasi & Definisi

Damarulan atau Damarwulan Banjarmasin merupakan seni pertunjukan tradisional berbentuk teater rakyat yang berkembang di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan. Kesenian ini merupakan hasil adaptasi cerita kepahlawanan Damarwulan, tokoh dalam sastra klasik Jawa yang dikenal melalui kisah peperangannya melawan Menak Jingga pada masa Kerajaan Majapahit. Ketika berkembang di Kalimantan Selatan, cerita tersebut mengalami proses akulturasi dengan budaya Banjar, baik dari segi bahasa, penyajian, musik pengiring, humor, maupun gaya pementasannya. Oleh karena itu, Damarulan Banjarmasin memiliki karakter yang berbeda dengan pertunjukan Damarwulan di Jawa karena telah menyerap identitas budaya masyarakat Banjar.

Sebagai seni pertunjukan rakyat, Damarulan memadukan unsur dialog, seni peran, tari, musik tradisional, nyanyian, dan komedi dalam satu kesatuan pertunjukan. Cerita yang dibawakan tidak hanya berisi kisah kepahlawanan, tetapi juga menyisipkan pesan moral, pendidikan, nilai kejujuran, keberanian, kesetiaan, serta kritik sosial yang dikemas dalam bahasa sederhana sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. Keberadaan Damarulan menunjukkan kemampuan masyarakat Banjar dalam mengadaptasi pengaruh budaya luar menjadi ekspresi budaya lokal tanpa kehilangan identitasnya.

Aspek Kesejarahan

Kemunculan Damarulan di Banjarmasin tidak dapat dilepaskan dari hubungan historis antara Kalimantan Selatan dengan Pulau Jawa yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Negara Dipa, Negara Daha, hingga Kesultanan Banjar. Hubungan perdagangan, penyebaran agama Islam, serta mobilitas penduduk dari Jawa ke Kalimantan membawa berbagai bentuk kesenian, termasuk cerita Panji dan kisah Damarwulan.

Sekitar awal abad ke-20, kelompok-kelompok seni rakyat mulai mementaskan kisah Damarwulan kepada masyarakat Banjarmasin. Seiring waktu, pertunjukan tersebut tidak lagi menggunakan bahasa Jawa sepenuhnya, melainkan diterjemahkan ke dalam bahasa Banjar dan diperkaya dengan dialog yang lebih komunikatif sesuai karakter masyarakat setempat. Unsur humor Banjar, pantun, musik tradisional, dan improvisasi para pemain menjadi ciri khas yang membedakan Damarulan Banjarmasin dari pertunjukan serupa di daerah lain.

Pada masa sebelum berkembangnya media hiburan modern, Damarulan menjadi salah satu tontonan yang sangat diminati masyarakat. Pertunjukan biasanya berlangsung semalam suntuk di ruang terbuka, halaman rumah, atau panggung rakyat pada saat pesta perkawinan, khitanan, peringatan hari besar, maupun perayaan kampung. Selain sebagai hiburan, pertunjukan menjadi media berkumpulnya masyarakat dan sarana penyampaian pesan moral kepada penonton.

Memasuki era modern, keberadaan Damarulan mengalami penurunan akibat berkembangnya televisi, film, media digital, dan perubahan selera masyarakat. Banyak kelompok seni berhenti beraktivitas karena berkurangnya regenerasi pemain dan minimnya kesempatan pementasan. Meskipun demikian, Damarulan masih dipertahankan oleh sejumlah pelaku seni dan pemerhati budaya melalui festival seni tradisional, dokumentasi, serta program pelestarian kebudayaan di Kalimantan Selatan.

Aspek Sosial

Dalam kehidupan masyarakat Banjar, Damarulan memiliki fungsi sosial sebagai media interaksi dan penguatan solidaritas masyarakat. Setiap penyelenggaraan pertunjukan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemain, pemusik, panitia, hingga warga yang bergotong royong menyiapkan tempat pertunjukan. Kegiatan tersebut mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan yang menjadi ciri kehidupan masyarakat Banjar.

Dialog dalam pertunjukan Damarulan sering kali memuat sindiran sosial, nasihat kehidupan, serta kritik terhadap berbagai persoalan masyarakat. Penyampaiannya dilakukan secara humoris sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima tanpa menimbulkan konflik. Melalui pendekatan tersebut, Damarulan menjadi media komunikasi budaya yang efektif dalam membangun kesadaran sosial dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

Selain itu, Damarulan berperan sebagai media pewarisan budaya antargenerasi. Para pemain senior mengajarkan teknik akting, vokal, improvisasi, penggunaan bahasa Banjar, hingga pemahaman terhadap alur cerita kepada generasi muda. Proses belajar dilakukan secara langsung melalui latihan dan pementasan sehingga pengetahuan mengenai seni pertunjukan tetap terjaga.

Sebagai hasil akulturasi budaya, Damarulan juga menunjukkan keterbukaan masyarakat Banjar terhadap pengaruh budaya luar. Cerita yang berasal dari tradisi Jawa diterima, diolah, dan disesuaikan dengan karakter lokal sehingga melahirkan bentuk seni baru yang menjadi bagian dari identitas budaya Banjar. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan bersifat dinamis dan berkembang melalui proses interaksi antarmasyarakat.

Fungsi utama Damarulan adalah sebagai media hiburan rakyat. Pertunjukan menghadirkan perpaduan cerita heroik, dialog jenaka, musik tradisional, tari, dan improvisasi yang memberikan hiburan bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Sifat pertunjukan yang komunikatif menjadikan Damarulan mudah diterima dan dinikmati oleh penonton.

Di samping fungsi hiburan, Damarulan memiliki fungsi edukatif. Kisah kepahlawanan Damarwulan mengandung berbagai nilai luhur, seperti keberanian, kesetiaan, kejujuran, tanggung jawab, dan semangat membela kebenaran. Nilai-nilai tersebut disampaikan melalui alur cerita sehingga menjadi media pendidikan karakter bagi masyarakat.

Damarulan juga berfungsi sebagai media pelestarian bahasa Banjar. Dialog, pantun, ungkapan, dan humor yang digunakan dalam pertunjukan memperkaya penggunaan bahasa Banjar sebagai bahasa komunikasi budaya. Dengan demikian, Damarulan turut menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas masyarakat Banjar.

Dalam konteks kebudayaan, Damarulan berfungsi sebagai sarana pelestarian seni pertunjukan tradisional. Kesenian ini mempertahankan berbagai unsur seni seperti seni peran, musik tradisional, tata busana, tata rias, sastra lisan, dan teknik pementasan yang diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian Damarulan sekaligus menjaga keberagaman seni pertunjukan tradisional di Kalimantan Selatan.

Di era sekarang, Damarulan juga memiliki fungsi sebagai aset budaya dan pariwisata. Pertunjukan Damarulan dapat ditampilkan dalam festival budaya, peringatan hari jadi daerah, kegiatan pendidikan, maupun atraksi wisata budaya yang memperkenalkan kekayaan seni Banjar kepada masyarakat luas. Melalui berbagai kegiatan tersebut, Damarulan memiliki potensi untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya sekaligus memperkuat identitas budaya Kalimantan Selatan.

Sebagai warisan budaya masyarakat Banjar, Damarulan Banjarmasin merupakan hasil akulturasi budaya yang mencerminkan kreativitas masyarakat dalam mengolah pengaruh budaya luar menjadi ekspresi budaya lokal. Nilai sejarah, sosial, pendidikan, dan seni yang terkandung di dalamnya menjadikan Damarulan tidak hanya sebagai hiburan tradisional, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, penguatan identitas budaya, serta sarana pelestarian seni pertunjukan tradisional yang perlu dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Lokasi & Persebaran

Kota Banjarmasin

Upaya Pelestarian

1. Pelindungan
Upaya pelindungan Damarulan/Damarwulan Banjarmasin diarahkan pada perlindungan terhadap keberadaan kesenian, pengetahuan, dan praktik pertunjukan agar tidak mengalami kepunahan. Langkah yang dilakukan meliputi pendataan dan inventarisasi kelompok seni, maestro, naskah lakon, musik pengiring, kostum, properti, serta dokumentasi audiovisual pertunjukan sebagai arsip budaya. Selain itu, dilakukan pencatatan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), penyusunan kajian akademis, digitalisasi dokumentasi, dan pengarsipan di lembaga kebudayaan maupun perpustakaan daerah. Pelindungan juga dilakukan melalui pemberian ruang bagi kelompok seni untuk tetap melakukan pementasan serta penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual komunal atas ekspresi budaya tradisional yang melekat pada Damarulan.

2. Pengembangan
Pengembangan Damarulan dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional sambil menyesuaikan penyajiannya dengan perkembangan zaman. Bentuk pengembangan meliputi penyusunan naskah pertunjukan yang lebih sistematis, inovasi tata panggung, tata cahaya, tata suara, dan tata busana tanpa menghilangkan karakter khas Damarulan. Selain itu, dilakukan penciptaan pertunjukan yang lebih ringkas untuk kebutuhan festival, pendidikan, dan pertunjukan publik. Pengembangan juga dilakukan melalui penelitian, penerbitan buku, produksi film dokumenter, digitalisasi pertunjukan, promosi melalui media sosial, serta kolaborasi dengan seni pertunjukan lain sebagai upaya memperluas apresiasi masyarakat.

3. Pemanfaatan
Damarulan dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter, pelestarian bahasa Banjar, dan penguatan identitas budaya daerah. Pertunjukan dapat ditampilkan pada festival budaya, peringatan hari besar nasional dan daerah, Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan, kegiatan sekolah, perguruan tinggi, museum, taman budaya, dan pusat kebudayaan. Selain sebagai hiburan masyarakat, Damarulan juga dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya yang memperkenalkan kekayaan seni pertunjukan Banjar kepada wisatawan. Pemanfaatan lainnya dilakukan melalui produksi konten digital, dokumenter budaya, serta materi pembelajaran muatan lokal sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam Damarulan dapat dikenal oleh generasi muda.

4. Pembinaan
Pembinaan dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan seni peran, dialog, vokal, musik pengiring, tata rias, tata busana, dan teknik pementasan bagi generasi muda. Pemerintah daerah bersama sanggar seni, komunitas budaya, perguruan tinggi, dan lembaga kebudayaan memberikan fasilitasi berupa pendampingan kelompok seni, bantuan sarana pertunjukan, workshop, festival, lomba teater tradisional, serta regenerasi pelaku seni. Pembinaan juga mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan, pemberian penghargaan kepada tokoh pelestari, serta penguatan jejaring antarkelompok seni di Kalimantan Selatan. Dengan pembinaan yang berkesinambungan, Damarulan diharapkan tetap hidup sebagai seni pertunjukan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian penting dalam pemajuan kebudayaan Indonesia sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Pihak Terkait

Komunitas / Organisasi:
Komunitas pelestari Damarulan/Damarwulan Banjarmasin meliputi Sanggar BADAWA (Baksa, Damarulan, Wayang) di Kampung Melayu, Kota Banjarmasin sebagai pewaris utama tradisi Damarulan, didukung oleh Taman Budaya Kalimantan Selatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII, serta akademisi Universitas Lambung Mangkurat melalui kegiatan penelitian, dokumentasi, pembinaan, dan revitalisasi. Tokoh-tokoh penting dalam pewarisan Damarulan antara lain Pangeran Ahmid, Gusti Husin, Gusti Amir, Gusti Jailani, dan Andin Zulkifli sebagai generasi penerus yang masih aktif melestarikan kesenian tersebut.
Guru Budaya / Maestro:
Belum terdapat penetapan resmi Guru Budaya/Maestro Damarulan (Damarwulan) Banjarmasin oleh Kementerian Kebudayaan. Pelestarian kesenian ini dilakukan secara turun-temurun melalui Sanggar BADAWA di Kota Banjarmasin. Tokoh yang memiliki peran penting dalam pewarisan dan pelestarian Damarulan antara lain Pangeran Ahmid sebagai pendiri tradisi BADAWA, Gusti Husin sebagai pengembang pada masa kejayaan, Gusti Jailani sebagai penerus sanggar, serta Andin Zulkifli sebagai generasi kelima yang hingga kini aktif melatih, mendokumentasikan, dan mementaskan Damarulan dalam berbagai kegiatan pelestarian budaya.

Galeri