Banaik Langsat

Banaik Langsat

Pengetahuan & Kebiasaan Perilaku mengenai Alam & Semesta Kab. Tabalong

Identifikasi & Definisi

Benaik langsat adalah salah satu hal yang dilakukan warga tanjung untuk mendapatkan langsat yang segar dan manis dengan cara memanennya atau memetiknya langsung dari pohon langsatnya yang biasanya orang tanjung menyebut Benaik langsat. Lokasi benaik langsat ini berada di Desa Tanta, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong.

Untuk melakukan ini harus orang profesional karna jika orang yang hanya bisa memanjat belum tentu bisa memetik langsatnya, karena jika bukan profesional maka langsat itu akan berserakan dan rasanya tidak terasa manis. Bahkan para pemilik kebun langsat biasanya menyewa pemanjat pohon langsat profesional untuk memetik hasil panen langsat mereka, bahkan pada bulan tertentu ketika panen langsat akbar, para pemilik pohon langsat akan bersamaan untuk melakukan selamatan untuk merayakan panen mereka, dan ketika itu mereka pun menggelar acara memetik langsat bersamaan yang dinamakan Benaik langsat.

Untuk para pemanjat profesional membawa alat yang disebut uluran/lupu (keranjang yang terbuat dari rotan) yang diikat di pinggang pemanjat, kemudian dengan memanjat tanpa alas kaki langsung naik keatas pohong langsat untuk memetik buah yang jauh dari jangkauan maka pemanjat akan menggunakan teknik yang disebut batayut atau manayut dengan menggunakan tali uluran, sesudah mendapatkan buah langsat barulah buah di turunkan kebawah dengan menggunakan uluran lalu yang menunggu dibawah memasukkan ke tempat yang disebut lanjung. Dari situlah makna gotong-royong, makna syukur dan makna saling berbagi itu ada. Hal ini dilakukan oleh pemilik kebun turun-temurun untuk melakukan tradisi ini.

Sikap syukur juga ditunjukkan para pemilik kebun apabila sedang panen raya. Mereka mengundang banyak orang untuk merayakan menikmati hasil panen, yang terkadang juga akan ada hidangan makanan lainnya, dari sini pula kemudian benaik langsat ini menjadi lebih dikenal orang luar, sebab mereka turut menyaksikan ketika para pemanjat pohon itu memetik buah langsat. hingga kemudian semakin populer dan dikenal luas.

Inti dari banaik langsat ini sebenarnya terletak pada kemampuan seorang pemanjat menaiki pohon yang batang pokoknya tumbuh lurus hingga mencapai ketinggian 10-20 meter. Disitu tentu memerlukan keahlian seorang pemanjat untuk bisa memanjat dengan baik, selain itu, seorang pemanjat pohon langsat ini juga memerlukan keahlian bagaimana memetik buah langsat itu sendiri, maksudnya adalah bagaimana ketika seorang pemanjat itu memetik buah langsat dan buahnya yang bergerombol pada satu tangkai itu tetap utuh, tidak terlepas hingga tercerai berai karena jatuh. jadi pelaku benaik langsat ini dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memang memiliki keahlian memanjat pohon dan memetik buah langsat. Tidak sembarang orang bisa memanjat pohon langsat dan memetik buahnya, sebab itu, pemilik kebun yang dirinya atau kerabat keluarganya tidak memiliki keahlian dalam memanjat pohon langsat, biasanya mereka akan memanggil atau menyewa orang lain yang memang berprofesi atau memiliki keahlian memanjat dan memetik buah langsat.

Menurut Novi, pamong budaya Kabupaten Tabalong , memang tidak bisa sembarang orang menaiki pohon langsat, dikarenakan pohon langsat ini dikenal sulit dipanjat. Oleh sebab itu, maka diperlukan orang yang benar benar ahli, khususnya dalam memanjat pohon langsat.

Begitulah buah langsat di Desa Tanta, Kabupaten Tabalong dipetik sehingga kelezatan rasa buahnya tetap terjaga. Pada proses memanjat pohon dan memetik buah langsat itu sendiri, sudah terdapat kearifan yakni dilakukan penuh kehati-hatian, tidak saja saat menaiki pohonnya, tetapi juga saat memetik buahnya. Buah tidak dijuluk dengan penggalah yang diujungnya diselipkan belati atau pisau untuk memutuskan tangkainya.

Dengan adanya acara benaik langsat setiap panen, secara langsung memberikan dampak sosial ekonomi dan budaya yang tinggi bagi masyarakat setempat. Warga menjadi semakin akrab dengan terjalinnya silaturahmi, juga terjadi pergerakan ekonomi dengan pembelian buah-buahan hasil panen yang juga memberikan penghasilan kepada para pemanjat pohon yang khusus untuk memetik buah langsat.

Pada saat panen raya yang biasanya terjadi pada bulan januari, akan memberikan pertunjukan kepada masyarakat lokal maupun wisatawan domestik untuk menikmati wisata petik buah langsat langsung dari pohon. Seperti yang pernah dilaksanakan pada tahun 2019, dimana digelar acara benaik langsat pada sebuah kebun dengan luas sekitar 5 x 10 meter persegi dan memiliki puluhan pohon langsat yang diperkirakan akan menghasilkan kurang lebih 1 ton buah langsat. Acara ini juga dihadiri oleh Bupati Tabalong sebagai bentuk dukungan langsung pemerintah setempat. Selain acara langsung bertujuan ekonomi dan pariwisata, acara banaik langsat yang dijadikan event ini juga bisa menjadi sebuah edukasi kepada masyarakat untuk menjaga dan melestarikan buah lokal khususnya langsat. Disamping itu, tentu saja memberikan pelajaran bagaimana cara naik dan memetik pohon langsat yang baik dan benar.

Lokasi & Persebaran

Desa Tanta

Upaya Pelestarian

1. Pelindungan: Upaya pelindungan Banaik Langsat dilakukan melalui inventarisasi, pendataan, dan dokumentasi sejarah, asal-usul, tata cara, makna, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Pelindungan juga dilakukan melalui identifikasi pelaku budaya dan pewarisan pengetahuan tradisi dari generasi tua kepada generasi muda.

2. Pengembangan: Upaya pengembangan dilakukan melalui penyusunan dokumentasi tertulis dan audiovisual, pengembangan media edukasi dan publikasi digital, serta pelibatan generasi muda dalam kegiatan pengenalan Banaik Langsat. Pengembangan tetap memperhatikan nilai, identitas, dan karakteristik tradisi.

3. Pemanfaatan: Banaik Langsat dimanfaatkan sebagai bahan edukasi dan pengenalan budaya melalui festival, pameran, kegiatan kebudayaan, publikasi, dan media digital. Pemanfaatan juga dapat dilakukan dalam kegiatan wisata budaya berbasis masyarakat dengan tetap memperhatikan konteks serta nilai tradisi.

4. Pembinaan: Pembinaan dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, dan pewarisan pengetahuan Banaik Langsat kepada generasi muda. Kegiatan melibatkan tokoh adat, guru budaya, pelaku tradisi, komunitas, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah untuk mendukung keberlanjutan serta penguatan kapasitas masyarakat pendukung budaya.

Dengan menjadikan benaik langsat sebagai event tahunan pemerintah untuk menghadirkan para pengunjung dari luar daerah dan dalam daerah sebagai daya tarik wisatawan untuk menyaksikan para pemanjat pohon langsat ini bersama-sama untuk memetik hasil panen langsat, sehingga menjadi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Pihak Terkait

Komunitas / Organisasi:
Rahmatul Maulaya
Guru Budaya / Maestro:
Novi Wardana

Galeri

Referensi

Jurnal dan Artikel Ilmiah

Purnamawati, R., Mahrudin., & Iriyati, R. (2024). Keanekaragaman Jenis Langsat (Genus Lansium) di Desa Tanta Kabupaten Tabalong. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, 13(1), 71–80. Jember: Universitas Islam Jember. Diakses dari https://ejurnal.uij.ac.id/index.php/BIO/article/download/2753/1756.
(Sumber utama: Membahas biodiversitas langsat di Desa Tanta, termasuk acara "Banaik Langsat" sebagai festival panen dengan memanjat pohon untuk menarik wisatawan dan melestarikan desa sebagai pusat wisata buah langsat.)

Saleh, M. (2010). Identifikasi Keragaman Buah Langsat di Kalimantan Selatan. Jurnal Pertanian Lahan Rawa, 17(2), 86–89. Banjarbaru: Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Kementerian Pertanian.
(Fokus pada varietas langsat Tanjung di Tabalong, yang menjadi dasar tradisi benaik langsat sebagai panen turun-temurun.)

Hanum, L., Kasiamdari, R. S., Santosa, & Rugayah. (2013). Karakter Makromorfologi dan Mikromorfologi Duku, Kokosan, Langsat dalam Penentuan Status Taksonomi pada Kategori Infraspesies. Biospecies, 6(2), 23–29. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Diakses dari repositori terkait.
(Analisis taksonomi langsat, termasuk varietas dari Tabalong, mendukung konteks budaya panen tradisional.)

Hanum, L., Rina, D., & Kasiamdari, S. (2013). Tumbuhan Duku: Senyawa Bioaktif, Aktivitas Farmaklogis dan Prospeknya dalam Bidang Kesehatan. Jurnal Biologi Papua, 5(2), 84–93. Manokwari: Universitas Papua.
(Bahas manfaat langsat/duku, relevan dengan promosi festival benaik langsat sebagai potensi kesehatan dan ekonomi lokal.)

Buku dan Monograf

Abdul Hanafi, Gusti Indra Setyawan, Lilies MS, Loki Santoso, Mahfuzh Amin, Muhammad Fitriadi, & Akhmad T. Bacco. (2012). Hikayat Tanjung Puri dan Tangisan Putri Galuh Sewangi: Cerita Rakyat Kabupaten Tabalong. Tanjung: Tahura Media bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tabalong. Katalog Dalam Terbitan (KDT) Perpustakaan Nasional RI.
Diakses dari https://datutadungmura2012.wordpress.com/2012/12/04/hikayat-tanjung-puri-dan-tangisan-putri-galuh-sewangi-cerita-rakyat-kabupaten-tabalong/.
(Sumber historis: Cerita rakyat Tabalong yang menyebut langsat Tanjung sebagai buah ikonik, terkait dengan asal-usul tradisi panen seperti benaik langsat di pekarangan rumah.)

Dokumen Resmi dan Situs Pemerintah

Pemerintah Kabupaten Tabalong. (n.d.). Festival Banaik Langsat Desa Tanta. Diakses dari https://tabalongkab.go.id/ (atau arsip berita resmi). Tanjung: Dinas Pariwisata Kabupaten Tabalong.
(Deskripsi resmi festival sebagai acara rutin musim panen langsat, dengan tujuan wisata dan pelestarian varietas lokal.)

Sumber Lain (Online, Wawancara, dan Warisan Budaya)

Blog Datu Tadung Mura. (2012). Hikayat Tanjung Puri dan Tangisan Putri Galuh Sewangi. Diakses dari https://datutadungmura2012.wordpress.com/2012/12/04/hikayat-tanjung-puri-dan-tangisan-putri-galuh-sewangi-cerita-rakyat-kabupaten-tabalong/.
(Artikel online: Menyebut langsat Tanjung sebagai buah manis khas Tabalong, tumbuh di pekarangan, yang menjadi dasar tradisi memanjat/benaik.)

Wawancara dengan petani langsat di Desa Tanta (nama umum: pelaku seperti yang dikutip dalam Purnamawati et al., 2024). Usia: mayoritas 40–60 tahun (generasi petani aktif).
(Sumber primer: Deskripsi tradisi memanjat pohon dengan keranjang untuk panen segar, nilai gotong royong, dan integrasi dengan festival tahunan.)