Makan Batalam Bakipas Pangeran
Identifikasi & Definisi
Sejak jaman kolonial Belanda, masyarakat muslim di desa Hapalah, desa Bangkiling Raya kecamatan Banua Lawas Kabupaten Tabalong setiap tahunnya merayakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara besar-besaran melibatkan seluruh masyarakat yang merupakan wujud ke gotong royongan. Dalam tradisi ini, tamu undangan yang datang dihormati seperti pangeran, yakni disambut dan dipayungi oleh kelompok hadrah diikuti dengan mengalunkan syair-syair islami. Penghormatan yang tinggi kepada tamu yang datang ini kemudian dijamu dengan makanan yang telah diletakkan di sebuah talam sebagai hidangan istimewa dan kemudian dikipasi, sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu undangan yang dianggap sebagai Pangeran. Para tamu yang hadir dikelompokkan menjadi 4 kelompok, Kelompok pria dewasa, kelompok wanita dewasa, kelompok anak-anak pria, dan kelompok anak-anak wanita. Seperti diceritakan seorang aparat Desa Bangkiling Raya, Dahli (52), tradisi Makan Batalam sudah ada sejak lama, sejak dia masih kecil, dan terus dilaksanakan turun temurun hingga sekarang. Awalnya, sebelum ada Desa Bangkiling Raya yang merupakan hasil pemekaran, tradisi ini lebih dulu juga dilaksanakan masyarakat Desa Bangkiling dan Desa Hapalah.
Menu makanan yang disuguhkan di talam yang biasanya berupa 1 ekor itik atau ayam panggang, atau ikan, lengkap dengan kuah sop dan nasi, disiapkan oleh warga. Mereka memasak atau menyiapkan masing-masing di rumah, dan kemudian nanti diantar atau dijemput untuk dibawa ke tempat acara. Warga dengan sukacita menyiapkan masakan untuk memperingati acara Maulid Nabi. Di sini terkandung nilai ketulusan dan keikhlasan para warga untuk bersama-sama menjalankan tradisi leluhur yang membawa nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan mereka. Selain bentuk wujud kecintaan mereka terhadap Rasulullah SAW dalam memperingati maulid Nabi, juga merupakan kerekatan hubungan mereka antar sesama warga.
Setelah makanan selesai dan telah disiapkan di dalam talam, kemudian secara bersama-sama pula warga beramai-ramai membawa talam itu ke tempat acara. Di sini kembali terdapat nilai kebersamaan dan kegotong-royongan. Tanpa perlu ada paksaan dan perintah, warga secara sukarela dan suka cita membawa talam-talam berisi makanan itu ke tempat acara yang biasanya digelar di Mesjid utama.
Menariknya lagi, karena kondisi geografis di Desa Bangkiling Raya, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong dibelah aliran sungai Tabalong, kegiatan saat acara bagaimana talam-talam ini dibawa memberikan pemandangan yang unik, sekaligus juga memperlihatkan betapa warga tampak bersuka cita melaksanakan kegiatan Maulid Nabi dengan Makan Batalam ini.
Ketika talam-talam itu dibawa menggunakan perahu kecil atau kelotok, terutama bagi warga yang berdiam di seberang sungai dari Mesjid Desa yang menjadi lokasi puncak acara peringatan Maulid, terlihat suasana yang begitu khas. Warga bergembira dan saling bantu-membantu. Perahu-perahu kecil itu beramai-ramai membawa makanan di dalam talam, dan kemudian di tepi sungai sebagian warga telah menunggu untuk menyambut talam. Mereka mengenakan pakaian koko, berkopiah, dan bersarung.
Bagi orang luar yang baru pertama kali menyaksikan kegiatan acara ini, mungkin akan mengira telah ada kenduri besar-besaran di Desa itu. Bagaimana tidak, ratusan talam berisi makanan disiapkan untuk nantinya disantap bersama-sama. Dan semuanya melibatkan seluruh warga desa, yang dengan penuh suka cita menyiapkan makanan dalam talam untuk mempringati Maulid Nabi.
Selain peringatan Maulid Nabi itu sendiri merupakan wujud kecintaan dan rasa syukur warga, menyiapkan makanan dalam talam mini juga menunjukkan adanya hubungan yang harmonis antara warga, rasa persaudaraan, dan kuatnya ikatan tali silaturahmi. Tentu saja juga menunjukkan tingginya tingkat toleransi antar warga, sebagaimana telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW di dalam ajarannya.
Kegiatan Makan Batalam yang dilaksanakan tiap tahun ini turut jadi perhatian Pemerintah Daerah setempat melalui DISDIKBUD. Salah satu perhatiannya yakni setiap tahunnya selalu disiapkan anggaran khusus bagi lancarnya kegiatan tersebut, dengan harapan dapat menjadi salah satu daya tarik di Kabupaten Tabalong. Tak jarang Kepala Daerah pun ikut hadit untuk mendukung pelaksanaan dan sebagai bentuk apresiasi dan upaya pelestarian.
Menurut Muhammad Riyadi (49 tahun), warga Bangkiling Raya, ia sudah biasa mengikuti acara Makan Batalam Maulid Nabi ini sejak SD hingga sekarang. Menurutnya, acara ini setiap tahun pasti dilaksanakan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, terkhusus di Desa Bangkiling Raya. Makan Batalam ini adalah bentuk perayaan warga Desa Bangkiling dalam memperingati Maulid Nabi, berbeda dengan daerah-daerah lain. Contohnya di Kabupaten Tapin yang merayakan peringatan Maulid Nabi dengan menyelenggarakan acara Baayun Maulid.
Menu makanan yang disuguhkan di talam yang biasanya berupa 1 ekor itik atau ayam panggang, atau ikan, lengkap dengan kuah sop dan nasi, disiapkan oleh warga. Mereka memasak atau menyiapkan masing-masing di rumah, dan kemudian nanti diantar atau dijemput untuk dibawa ke tempat acara. Warga dengan sukacita menyiapkan masakan untuk memperingati acara Maulid Nabi. Di sini terkandung nilai ketulusan dan keikhlasan para warga untuk bersama-sama menjalankan tradisi leluhur yang membawa nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan mereka. Selain bentuk wujud kecintaan mereka terhadap Rasulullah SAW dalam memperingati maulid Nabi, juga merupakan kerekatan hubungan mereka antar sesama warga.
Setelah makanan selesai dan telah disiapkan di dalam talam, kemudian secara bersama-sama pula warga beramai-ramai membawa talam itu ke tempat acara. Di sini kembali terdapat nilai kebersamaan dan kegotong-royongan. Tanpa perlu ada paksaan dan perintah, warga secara sukarela dan suka cita membawa talam-talam berisi makanan itu ke tempat acara yang biasanya digelar di Mesjid utama.
Menariknya lagi, karena kondisi geografis di Desa Bangkiling Raya, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong dibelah aliran sungai Tabalong, kegiatan saat acara bagaimana talam-talam ini dibawa memberikan pemandangan yang unik, sekaligus juga memperlihatkan betapa warga tampak bersuka cita melaksanakan kegiatan Maulid Nabi dengan Makan Batalam ini.
Ketika talam-talam itu dibawa menggunakan perahu kecil atau kelotok, terutama bagi warga yang berdiam di seberang sungai dari Mesjid Desa yang menjadi lokasi puncak acara peringatan Maulid, terlihat suasana yang begitu khas. Warga bergembira dan saling bantu-membantu. Perahu-perahu kecil itu beramai-ramai membawa makanan di dalam talam, dan kemudian di tepi sungai sebagian warga telah menunggu untuk menyambut talam. Mereka mengenakan pakaian koko, berkopiah, dan bersarung.
Bagi orang luar yang baru pertama kali menyaksikan kegiatan acara ini, mungkin akan mengira telah ada kenduri besar-besaran di Desa itu. Bagaimana tidak, ratusan talam berisi makanan disiapkan untuk nantinya disantap bersama-sama. Dan semuanya melibatkan seluruh warga desa, yang dengan penuh suka cita menyiapkan makanan dalam talam untuk mempringati Maulid Nabi.
Selain peringatan Maulid Nabi itu sendiri merupakan wujud kecintaan dan rasa syukur warga, menyiapkan makanan dalam talam mini juga menunjukkan adanya hubungan yang harmonis antara warga, rasa persaudaraan, dan kuatnya ikatan tali silaturahmi. Tentu saja juga menunjukkan tingginya tingkat toleransi antar warga, sebagaimana telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW di dalam ajarannya.
Kegiatan Makan Batalam yang dilaksanakan tiap tahun ini turut jadi perhatian Pemerintah Daerah setempat melalui DISDIKBUD. Salah satu perhatiannya yakni setiap tahunnya selalu disiapkan anggaran khusus bagi lancarnya kegiatan tersebut, dengan harapan dapat menjadi salah satu daya tarik di Kabupaten Tabalong. Tak jarang Kepala Daerah pun ikut hadit untuk mendukung pelaksanaan dan sebagai bentuk apresiasi dan upaya pelestarian.
Menurut Muhammad Riyadi (49 tahun), warga Bangkiling Raya, ia sudah biasa mengikuti acara Makan Batalam Maulid Nabi ini sejak SD hingga sekarang. Menurutnya, acara ini setiap tahun pasti dilaksanakan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, terkhusus di Desa Bangkiling Raya. Makan Batalam ini adalah bentuk perayaan warga Desa Bangkiling dalam memperingati Maulid Nabi, berbeda dengan daerah-daerah lain. Contohnya di Kabupaten Tapin yang merayakan peringatan Maulid Nabi dengan menyelenggarakan acara Baayun Maulid.
Lokasi & Persebaran
Kabupaten Tabalong
Upaya Pelestarian
- Masuknya Tradisi Makan Batalam Bakipas Pangeran ke dalam Kalender Event Budaya Tahunan Kabupaten Tabalong
- Pemda Setempat setiap tahunnya menyiapkan anggaran khusus untuk mendukung kegiatan ini.
- Pemda Setempat setiap tahunnya menyiapkan anggaran khusus untuk mendukung kegiatan ini.
Galeri
Melihat Tradisi Makan Batalam Desa Bangkiling
Dokumen & Media
Makan Batalam Bakipas Pangeran (Tradisi Maulid Nabi di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan)Referensi
Referensi Media Online dan Berita:
Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group). (2022). Tradisi Makan Batalam Bakipas Pangeran di Desa Bangkiling Saat Maulid. Banjarmasin: Radar Banjarmasin. Diakses dari https://radarbanjarmasin.jawapos.com/tahulah-pian/1973151798/tradisi-makan-batalam-bakipas-pangeran-di-desa-bangkiling-saat-maulid. (Menjelaskan jamuan makan besar dengan menu bebek dan ayam bakar/goreng di Desa Bangkiling, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong).
Tribun Banjarmasin. (2022). Makan Batalam Bakipas Pangeran, Tradisi Santapan Satu Nampan Saat Peringatan Maulid di Tabalong. Banjarmasin: Tribunnews.com. Diakses dari https://banjarmasin.tribunnews.com/2022/10/02/makan-batalam-bakipas-pangeran-tradisi-santapan-satu-nampan-saat-peringatan-maulid-di-tabalong. (Deskripsi tradisi unik di Desa Bangkiling Raya).
Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Tabalong. (2025). Tradisi Makan Batalam, Warisan Religius Banua Lawas yang Satukan Warga Tabalong. Tanjung, Tabalong: portal.tabalongkab.go.id. Diakses dari https://portal.tabalongkab.go.id/post/2025-09-30-tradisi-makan-batalam-warisan-religius-banua-lawas-yang-satukan-warga-tabalong. (Dikutip pernyataan Kepala Desa Hapalah, Anang Acil, bahwa tradisi ini diwariskan sejak masa Kerajaan Banjar).
Kontras X. (2024). Menggali Makna Tradisi Makan “Batalam” di Banua Lawas. Tanjung: kontrasx.com. Diakses dari https://kontrasx.com/2024/10/03/menggali-makna-tradisi-makan-batalam-di-banua-lawas. (Penjelasan asal-usul dari adat Kerajaan Banjar untuk menyambut tamu agung/istimewa).
Tribun Banjarmasin. (2024). Mengenal Tradisi Makan Batalam di Banua Lawas, Anang Sebut untuk Ajarkan Manusia Tidak Serakah. Banjarmasin: banjarmasin.tribunnews.com. Diakses dari https://banjarmasin.tribunnews.com/2024/10/18/mengenal-tradisi-makan-batalam-di-banua-lawasanang-sebut-untuk-ajarkan-manusia-tidak-serakah. (Wawancara dengan Anang Acil tentang makna kebersamaan dan anti-serakah).
Sekata.id. (2024). Tradisi Maulid Makan Batalam Warga Banua Lawas Tabalong. Diakses dari https://sekata.id/tradisi-maulid-makan-batalam-warga-banua-lawas-tabalong. (Penjelasan bermula dari adat Kerajaan Banjar).
Sumber Lisan / Saksi Sejarah (Tokoh Masyarakat yang Masih Hidup):
Anang Acil (Kepala Desa Hapalah, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan). Usia sekitar 50–60 tahun (berdasarkan konteks kepemimpinan desa).
Sumber lisan utama yang sering diwawancarai media tahun 2024–2025. Beliau menuturkan bahwa makan batalam merupakan kearifan lokal warisan Kerajaan Banjar, bertujuan menyatukan warga, mengajarkan tidak serakah, dan menghormati tamu seperti masa kerajaan dulu. Wawancara tersebar di portal.tabalongkab.go.id, Tribun Banjarmasin, dan Kontras X.
Tokoh adat/masyarakat Desa Bangkiling Raya atau Desa Hapalah (Banua Lawas, Tabalong). Usia bervariasi 50–80 tahun. Sumber lisan dari warga setempat yang melestarikan tradisi ini secara turun-temurun, sering disebut dalam video YouTube Program TV Tabalong dan laporan media lokal (misalnya tradisi Maulid dengan penyajian itik panggang bumbu khas Bangkiling Raya dalam satu talam).
Referensi Tambahan (Video dan Media Sosial):
Program TV Tabalong. (Tahun tidak spesifik, sekitar 2022–2025). The Tradition of "Eating Batalam" Bakipas Pangeran - Tabalong Cultured. Diunggah di YouTube. (Video dokumentasi tradisi unik bulan Maulid di Tabalong).
Instagram dan YouTube berbagai akun lokal Tabalong/Banua Lawas (2024–2025). Reel dan video pendek tentang "Makan Batalam Bakipas Pangeran" sebagai tradisi Maulid, misalnya reel dari akun yang menampilkan proses penyajian talam besar.
Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group). (2022). Tradisi Makan Batalam Bakipas Pangeran di Desa Bangkiling Saat Maulid. Banjarmasin: Radar Banjarmasin. Diakses dari https://radarbanjarmasin.jawapos.com/tahulah-pian/1973151798/tradisi-makan-batalam-bakipas-pangeran-di-desa-bangkiling-saat-maulid. (Menjelaskan jamuan makan besar dengan menu bebek dan ayam bakar/goreng di Desa Bangkiling, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong).
Tribun Banjarmasin. (2022). Makan Batalam Bakipas Pangeran, Tradisi Santapan Satu Nampan Saat Peringatan Maulid di Tabalong. Banjarmasin: Tribunnews.com. Diakses dari https://banjarmasin.tribunnews.com/2022/10/02/makan-batalam-bakipas-pangeran-tradisi-santapan-satu-nampan-saat-peringatan-maulid-di-tabalong. (Deskripsi tradisi unik di Desa Bangkiling Raya).
Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Tabalong. (2025). Tradisi Makan Batalam, Warisan Religius Banua Lawas yang Satukan Warga Tabalong. Tanjung, Tabalong: portal.tabalongkab.go.id. Diakses dari https://portal.tabalongkab.go.id/post/2025-09-30-tradisi-makan-batalam-warisan-religius-banua-lawas-yang-satukan-warga-tabalong. (Dikutip pernyataan Kepala Desa Hapalah, Anang Acil, bahwa tradisi ini diwariskan sejak masa Kerajaan Banjar).
Kontras X. (2024). Menggali Makna Tradisi Makan “Batalam” di Banua Lawas. Tanjung: kontrasx.com. Diakses dari https://kontrasx.com/2024/10/03/menggali-makna-tradisi-makan-batalam-di-banua-lawas. (Penjelasan asal-usul dari adat Kerajaan Banjar untuk menyambut tamu agung/istimewa).
Tribun Banjarmasin. (2024). Mengenal Tradisi Makan Batalam di Banua Lawas, Anang Sebut untuk Ajarkan Manusia Tidak Serakah. Banjarmasin: banjarmasin.tribunnews.com. Diakses dari https://banjarmasin.tribunnews.com/2024/10/18/mengenal-tradisi-makan-batalam-di-banua-lawasanang-sebut-untuk-ajarkan-manusia-tidak-serakah. (Wawancara dengan Anang Acil tentang makna kebersamaan dan anti-serakah).
Sekata.id. (2024). Tradisi Maulid Makan Batalam Warga Banua Lawas Tabalong. Diakses dari https://sekata.id/tradisi-maulid-makan-batalam-warga-banua-lawas-tabalong. (Penjelasan bermula dari adat Kerajaan Banjar).
Sumber Lisan / Saksi Sejarah (Tokoh Masyarakat yang Masih Hidup):
Anang Acil (Kepala Desa Hapalah, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan). Usia sekitar 50–60 tahun (berdasarkan konteks kepemimpinan desa).
Sumber lisan utama yang sering diwawancarai media tahun 2024–2025. Beliau menuturkan bahwa makan batalam merupakan kearifan lokal warisan Kerajaan Banjar, bertujuan menyatukan warga, mengajarkan tidak serakah, dan menghormati tamu seperti masa kerajaan dulu. Wawancara tersebar di portal.tabalongkab.go.id, Tribun Banjarmasin, dan Kontras X.
Tokoh adat/masyarakat Desa Bangkiling Raya atau Desa Hapalah (Banua Lawas, Tabalong). Usia bervariasi 50–80 tahun. Sumber lisan dari warga setempat yang melestarikan tradisi ini secara turun-temurun, sering disebut dalam video YouTube Program TV Tabalong dan laporan media lokal (misalnya tradisi Maulid dengan penyajian itik panggang bumbu khas Bangkiling Raya dalam satu talam).
Referensi Tambahan (Video dan Media Sosial):
Program TV Tabalong. (Tahun tidak spesifik, sekitar 2022–2025). The Tradition of "Eating Batalam" Bakipas Pangeran - Tabalong Cultured. Diunggah di YouTube. (Video dokumentasi tradisi unik bulan Maulid di Tabalong).
Instagram dan YouTube berbagai akun lokal Tabalong/Banua Lawas (2024–2025). Reel dan video pendek tentang "Makan Batalam Bakipas Pangeran" sebagai tradisi Maulid, misalnya reel dari akun yang menampilkan proses penyajian talam besar.