Tradisi Kain Pamintan
Kain Pamintan · Dikenal juga sebagai: Kain Pamintan
Identifikasi & Definisi
Kain pamintan merupakan kain yang berwarna kuning bermotifkan sasirangan.
Kain pamintan ini ada dua jenis, yaitu untuk perempuan dan untuk laki-laki. Yang membedakan jenis ini adalah motifnya. Pertama untuk laki-laki, jenis kain pamintan bermotifkan sasirangan, namun di tengahnya ada warna merah persegi empat. Adapun untuk perempuan jenis kain pamintan ini berbeda dengan jenis kain pamintan laki-laki. Untuk perempuan tidak ada warna merah persegi empat ditengahnya hanya saja kain warna kuning bermotifkan sasirangan.
Bagi masyarakat pengidap penyakit pingitan mempercayai pengobatan dengan menggunakan kain pamintan, sehingga ketika merasakan sakit kepala atau gejala-gejala aneh maka mereka langsung pergi ke penamba. Ketika orang yang kena penyakit pingitan datang ke tempat penamba, penamba inilah yang mengarahkan bagaimana proses-proses dalam melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan.
Adapun sebelum menggunakan kain pamintan, harus menyediakan sasaji berupa makanan seperti singkaruk, pisang, tapai dan nasi ketan serta dua telur rebus dimaksudkan agar penyakit pingitan tidak kembali lagi. Adapun cara menggunakan kain pamintan dengan cara dililitkan dikepala atau di ikat dikepala, dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah dan bisa juga dililitkan diperut dimaksudkan sarana untuk menyembuhkan penyakit diare dan jenis penyakit perut lainnya.
Berikut adalah skema cara pengobatan menggunakan kain pamintan. Ada beberapa hal yang perlu disiapkan bagi warga untuk cara pengobatan menggunakan kain pamintan ialah menyiapkan makanan berupa sasaji, singkaruk, nasi ketan, telur rebus dan pisang. Setelah itu menyiapakan tapung tawar yang terdiri dari daun pisang dan air.
Setelah semuanya telah disiapkan maka pertama adalah menyiapkan kain pamintan, setelah kain pamintan tersebut sudah disiapkan maka diberi tapung tawar dan makanan yang sudah disiapkan ditaruh disamping. Setelah semuanya sudah disiapkan kemudian membaca basmalah, dilanjutkan dengan surah al-fatihah dan sholawat.
Setelah sudah diberi tapung tawar pada kain pamintan maka bisa langsung dipakai atau dikenakan untuk penutup kepala bagi perempuan. Pakaian yang digunakan saat melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan adalah pakaian yang digunakan untuk sehari hari. Artinya, tidak ada pakaian khusus untuk melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan. Dan dilakukan setelah shalat dzhur atau sudah siang hari melakukan untuk pengobatan menggunakan kain pamintan.
Dalam memakai kain pamintan, ada cara-caranya bagi perempuan dan laki-laki. Untuk perempuan memakai kain pamintan diletakkan di atas kepala seperti memakai kerudung, sedangkan untuk laki-laki diletakkan diatas kepala seperti memakai laung yang dilipat lipat segitiga sehingga motif yang warna merahnya terlihat.
Cara- cara tersebut guna membedakan laki-laki dan perempuan dalam cara pemakaian. Karena motif kain pamintan ini juga berbeda untuk laki laki dan perempuan Sehingga cara pemakaianya pun juga berbeda.
Sebelum melakukan proses pemakaian kain pamintan ada hal hal yang perlu disiapkan serta bahan bahan makanan seperti singkaruk, nasi ketan, telur rebus dan tapai. semua bahan makanan tersebut dibuat kedalam wadah nampan.
Selanjutnya menyiapkan seperti gelas yang sudah diisi air yang dicampur minyak wangi serta daun pisang.setalah semuanya disiapkan maka hal pertama yang dilakukan adalah memberi tapung tawar pada kain pamintan sebelum digunakan. Cara menapung tawarnya pun harus diiringi dengan doa- doa.
Kain pamintan ini ada dua jenis, yaitu untuk perempuan dan untuk laki-laki. Yang membedakan jenis ini adalah motifnya. Pertama untuk laki-laki, jenis kain pamintan bermotifkan sasirangan, namun di tengahnya ada warna merah persegi empat. Adapun untuk perempuan jenis kain pamintan ini berbeda dengan jenis kain pamintan laki-laki. Untuk perempuan tidak ada warna merah persegi empat ditengahnya hanya saja kain warna kuning bermotifkan sasirangan.
Bagi masyarakat pengidap penyakit pingitan mempercayai pengobatan dengan menggunakan kain pamintan, sehingga ketika merasakan sakit kepala atau gejala-gejala aneh maka mereka langsung pergi ke penamba. Ketika orang yang kena penyakit pingitan datang ke tempat penamba, penamba inilah yang mengarahkan bagaimana proses-proses dalam melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan.
Adapun sebelum menggunakan kain pamintan, harus menyediakan sasaji berupa makanan seperti singkaruk, pisang, tapai dan nasi ketan serta dua telur rebus dimaksudkan agar penyakit pingitan tidak kembali lagi. Adapun cara menggunakan kain pamintan dengan cara dililitkan dikepala atau di ikat dikepala, dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah dan bisa juga dililitkan diperut dimaksudkan sarana untuk menyembuhkan penyakit diare dan jenis penyakit perut lainnya.
Berikut adalah skema cara pengobatan menggunakan kain pamintan. Ada beberapa hal yang perlu disiapkan bagi warga untuk cara pengobatan menggunakan kain pamintan ialah menyiapkan makanan berupa sasaji, singkaruk, nasi ketan, telur rebus dan pisang. Setelah itu menyiapakan tapung tawar yang terdiri dari daun pisang dan air.
Setelah semuanya telah disiapkan maka pertama adalah menyiapkan kain pamintan, setelah kain pamintan tersebut sudah disiapkan maka diberi tapung tawar dan makanan yang sudah disiapkan ditaruh disamping. Setelah semuanya sudah disiapkan kemudian membaca basmalah, dilanjutkan dengan surah al-fatihah dan sholawat.
Setelah sudah diberi tapung tawar pada kain pamintan maka bisa langsung dipakai atau dikenakan untuk penutup kepala bagi perempuan. Pakaian yang digunakan saat melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan adalah pakaian yang digunakan untuk sehari hari. Artinya, tidak ada pakaian khusus untuk melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan. Dan dilakukan setelah shalat dzhur atau sudah siang hari melakukan untuk pengobatan menggunakan kain pamintan.
Dalam memakai kain pamintan, ada cara-caranya bagi perempuan dan laki-laki. Untuk perempuan memakai kain pamintan diletakkan di atas kepala seperti memakai kerudung, sedangkan untuk laki-laki diletakkan diatas kepala seperti memakai laung yang dilipat lipat segitiga sehingga motif yang warna merahnya terlihat.
Cara- cara tersebut guna membedakan laki-laki dan perempuan dalam cara pemakaian. Karena motif kain pamintan ini juga berbeda untuk laki laki dan perempuan Sehingga cara pemakaianya pun juga berbeda.
Sebelum melakukan proses pemakaian kain pamintan ada hal hal yang perlu disiapkan serta bahan bahan makanan seperti singkaruk, nasi ketan, telur rebus dan tapai. semua bahan makanan tersebut dibuat kedalam wadah nampan.
Selanjutnya menyiapkan seperti gelas yang sudah diisi air yang dicampur minyak wangi serta daun pisang.setalah semuanya disiapkan maka hal pertama yang dilakukan adalah memberi tapung tawar pada kain pamintan sebelum digunakan. Cara menapung tawarnya pun harus diiringi dengan doa- doa.
Lokasi & Persebaran
Kabupaten Barito Kuala
Upaya Pelestarian
1. Pelindungan: Pelindungan Tradisi Kain Pamintan dilakukan melalui inventarisasi, pendataan, dan dokumentasi sejarah, asal-usul, fungsi, makna, bahan, alat, motif, serta teknik pembuatan kain. Upaya ini juga mencakup identifikasi pelaku budaya dan pengrajin, dokumentasi proses pembuatan, serta pewarisan pengetahuan dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda.
2. Pengembangan: Pengembangan dilakukan melalui dokumentasi teknik pembuatan dan motif, inovasi desain serta produk berbasis Kain Pamintan, dan pengembangan media edukasi serta publikasi digital. Pengembangan tetap mempertahankan identitas, nilai budaya, dan karakteristik tradisional kain melalui kolaborasi antara pengrajin, pelaku budaya, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah.
3. Pemanfaatan: Kain Pamintan dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan budaya melalui pameran, festival, kegiatan edukasi, dan publikasi. Pemanfaatan juga dapat mendukung penguatan ekonomi kreatif masyarakat melalui produk berbasis Kain Pamintan, dengan tetap memperhatikan fungsi, makna tradisional, dan manfaat bagi pengrajin serta masyarakat pendukungnya.
4. Pembinaan: Pembinaan dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, dan pewarisan pengetahuan serta keterampilan pembuatan Kain Pamintan kepada generasi muda. Kegiatan melibatkan pengrajin senior, maestro, guru budaya, komunitas, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas pelaku serta menjaga keberlanjutan Tradisi Kain Pamintan sebagai warisan budaya masyarakat.
2. Pengembangan: Pengembangan dilakukan melalui dokumentasi teknik pembuatan dan motif, inovasi desain serta produk berbasis Kain Pamintan, dan pengembangan media edukasi serta publikasi digital. Pengembangan tetap mempertahankan identitas, nilai budaya, dan karakteristik tradisional kain melalui kolaborasi antara pengrajin, pelaku budaya, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah.
3. Pemanfaatan: Kain Pamintan dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan budaya melalui pameran, festival, kegiatan edukasi, dan publikasi. Pemanfaatan juga dapat mendukung penguatan ekonomi kreatif masyarakat melalui produk berbasis Kain Pamintan, dengan tetap memperhatikan fungsi, makna tradisional, dan manfaat bagi pengrajin serta masyarakat pendukungnya.
4. Pembinaan: Pembinaan dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, dan pewarisan pengetahuan serta keterampilan pembuatan Kain Pamintan kepada generasi muda. Kegiatan melibatkan pengrajin senior, maestro, guru budaya, komunitas, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas pelaku serta menjaga keberlanjutan Tradisi Kain Pamintan sebagai warisan budaya masyarakat.
Galeri