Air Guci
Identifikasi & Definisi
Air Guci merupakan salah satu kerajinan tradisional khas masyarakat Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan yang termasuk dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Air Guci adalah teknik menghias kain dengan menyusun dan menjahit kepingan logam kecil berbentuk bulat atau menyerupai payet yang dipadukan dengan sulaman benang emas maupun perak sehingga membentuk motif-motif khas Banjar. Kerajinan ini umumnya diterapkan pada kain beludru atau kain bertekstur tebal untuk menghasilkan hiasan yang berkilau dan bernilai estetis tinggi. Dalam kehidupan masyarakat Banjar, Air Guci banyak digunakan sebagai dekorasi pelaminan adat, busana pengantin, perlengkapan upacara adat, serta berbagai perlengkapan rumah tangga dan produk seni kriya. Sebagai warisan budaya masyarakat Banjar, Air Guci telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016.
Aspek Kesejarahan
Air Guci berkembang di lingkungan masyarakat Banjar Kuala, terutama di Kota Banjarmasin yang sejak dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan dan pertemuan berbagai kebudayaan di Kalimantan Selatan. Kemunculan kerajinan ini diperkirakan berkaitan dengan berkembangnya hubungan perdagangan masyarakat Banjar dengan pedagang dari Melayu, Jawa, Tiongkok, India, dan Timur Tengah yang membawa berbagai jenis kain, benang emas, payet logam, serta teknik menghias tekstil.
Melalui proses akulturasi tersebut, masyarakat Banjar mengembangkan teknik menghias kain yang berbeda dengan sulaman biasa. Kepingan logam kecil dijahit satu per satu pada permukaan kain sehingga menghasilkan pantulan cahaya yang indah. Teknik tersebut kemudian dikenal sebagai Air Guci dan menjadi salah satu ciri khas kerajinan tekstil Banjar.
Pada masa Kesultanan Banjar, Air Guci digunakan sebagai hiasan pada perlengkapan keluarga bangsawan, dekorasi pelaminan, tabir pengantin, bantal adat, sarung bantal, busana kebesaran, serta perlengkapan upacara adat. Motif-motif yang digunakan umumnya berupa sulur tumbuhan, bunga, dedaunan, kaligrafi, serta ragam hias khas Banjar yang mencerminkan perpaduan nilai estetika lokal dan pengaruh Islam.
Seiring perkembangan zaman, penggunaan Air Guci tidak lagi terbatas pada lingkungan bangsawan, tetapi berkembang di kalangan masyarakat umum. Para perajin mulai memproduksi Air Guci sebagai perlengkapan adat sekaligus produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. Hingga kini, teknik pembuatannya masih mempertahankan proses manual yang diwariskan secara turun-temurun dalam lingkungan keluarga maupun kelompok perajin.
Aspek Sosial
Dalam kehidupan masyarakat Banjar, Air Guci memiliki makna sosial yang erat kaitannya dengan identitas budaya, penghormatan terhadap tradisi, dan kebersamaan masyarakat. Kerajinan ini menjadi bagian penting dalam pelaksanaan adat perkawinan Banjar, khususnya sebagai dekorasi pelaminan, tabir pengantin, dan perlengkapan upacara yang melambangkan keindahan, kemakmuran, dan doa bagi kehidupan rumah tangga pasangan pengantin.
Pembuatan Air Guci juga mencerminkan nilai gotong royong dan pewarisan pengetahuan antargenerasi. Keterampilan menyusun motif, menjahit kepingan logam, serta memilih komposisi warna biasanya diwariskan dari orang tua kepada anak atau melalui kelompok-kelompok perajin. Proses tersebut memperkuat hubungan sosial sekaligus menjaga keberlangsungan pengetahuan tradisional masyarakat Banjar.
Selain sebagai identitas budaya, Air Guci menjadi simbol kreativitas perempuan Banjar dalam menghasilkan karya seni yang memadukan ketelitian, kesabaran, dan kehalusan rasa estetika. Pengerjaan satu lembar Air Guci membutuhkan waktu yang cukup lama karena setiap kepingan logam dipasang secara manual sehingga menghasilkan pola yang rapi dan simetris.
Dalam perkembangan masyarakat modern, Air Guci juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya lokal. Berbagai pelatihan, pameran, festival budaya, dan kegiatan ekonomi kreatif menjadikan Air Guci semakin dikenal oleh masyarakat luas. Keterlibatan perajin, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan turut memperkuat eksistensi Air Guci sebagai bagian dari identitas budaya Banjar.
Fungsi utama Air Guci adalah sebagai kerajinan hias tradisional yang memperindah berbagai perlengkapan adat masyarakat Banjar. Dalam upacara perkawinan, Air Guci digunakan sebagai dekorasi pelaminan, tabir pengantin, alas duduk, bantal adat, dan berbagai perlengkapan lain yang memberikan kesan megah dan sakral pada prosesi adat.
Selain fungsi estetis, Air Guci juga memiliki fungsi simbolik. Motif-motif bunga, sulur, dan ragam hias Banjar yang disusun pada kain melambangkan harapan akan kehidupan yang harmonis, kesejahteraan, keindahan, serta keberkahan bagi pemiliknya. Oleh karena itu, Air Guci sering digunakan pada peristiwa-peristiwa penting yang memiliki nilai budaya tinggi.
Dalam bidang pendidikan, Air Guci menjadi media pembelajaran mengenai teknik kerajinan tradisional, seni rupa, desain motif, dan nilai-nilai budaya Banjar. Kegiatan pelatihan bagi generasi muda tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkenalkan filosofi motif serta sejarah perkembangan kerajinan tradisional Banjar.
Di sektor ekonomi kreatif, Air Guci berkembang menjadi produk unggulan kerajinan Kalimantan Selatan. Selain digunakan sebagai perlengkapan adat, Air Guci kini diaplikasikan pada berbagai produk seperti hiasan dinding, kaligrafi, tas, dompet, sarung bantal, taplak meja, busana, aksesori, hingga suvenir khas daerah. Diversifikasi produk tersebut membuka peluang usaha bagi para perajin sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.
Air Guci juga berfungsi sebagai media promosi budaya daerah. Produk-produk Air Guci sering ditampilkan dalam pameran kerajinan, festival budaya, promosi pariwisata, dan kegiatan diplomasi budaya yang memperkenalkan kekayaan seni kriya Banjar kepada masyarakat nasional maupun internasional. Dengan demikian, Air Guci tidak hanya menjadi benda kerajinan, tetapi juga representasi identitas budaya Kalimantan Selatan.
Sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Air Guci memiliki fungsi penting dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan tradisional masyarakat Banjar. Melalui pewarisan keterampilan, inovasi produk, pembinaan perajin, dan pemanfaatan dalam berbagai kegiatan budaya, Air Guci terus berkembang sebagai karya budaya yang memiliki nilai sejarah, estetika, sosial, pendidikan, dan ekonomi. Keberadaannya menjadi bukti kreativitas masyarakat Banjar dalam mengolah bahan sederhana menjadi karya seni yang bernilai tinggi sekaligus memperkuat jati diri budaya Kalimantan Selatan.
Aspek Kesejarahan
Air Guci berkembang di lingkungan masyarakat Banjar Kuala, terutama di Kota Banjarmasin yang sejak dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan dan pertemuan berbagai kebudayaan di Kalimantan Selatan. Kemunculan kerajinan ini diperkirakan berkaitan dengan berkembangnya hubungan perdagangan masyarakat Banjar dengan pedagang dari Melayu, Jawa, Tiongkok, India, dan Timur Tengah yang membawa berbagai jenis kain, benang emas, payet logam, serta teknik menghias tekstil.
Melalui proses akulturasi tersebut, masyarakat Banjar mengembangkan teknik menghias kain yang berbeda dengan sulaman biasa. Kepingan logam kecil dijahit satu per satu pada permukaan kain sehingga menghasilkan pantulan cahaya yang indah. Teknik tersebut kemudian dikenal sebagai Air Guci dan menjadi salah satu ciri khas kerajinan tekstil Banjar.
Pada masa Kesultanan Banjar, Air Guci digunakan sebagai hiasan pada perlengkapan keluarga bangsawan, dekorasi pelaminan, tabir pengantin, bantal adat, sarung bantal, busana kebesaran, serta perlengkapan upacara adat. Motif-motif yang digunakan umumnya berupa sulur tumbuhan, bunga, dedaunan, kaligrafi, serta ragam hias khas Banjar yang mencerminkan perpaduan nilai estetika lokal dan pengaruh Islam.
Seiring perkembangan zaman, penggunaan Air Guci tidak lagi terbatas pada lingkungan bangsawan, tetapi berkembang di kalangan masyarakat umum. Para perajin mulai memproduksi Air Guci sebagai perlengkapan adat sekaligus produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. Hingga kini, teknik pembuatannya masih mempertahankan proses manual yang diwariskan secara turun-temurun dalam lingkungan keluarga maupun kelompok perajin.
Aspek Sosial
Dalam kehidupan masyarakat Banjar, Air Guci memiliki makna sosial yang erat kaitannya dengan identitas budaya, penghormatan terhadap tradisi, dan kebersamaan masyarakat. Kerajinan ini menjadi bagian penting dalam pelaksanaan adat perkawinan Banjar, khususnya sebagai dekorasi pelaminan, tabir pengantin, dan perlengkapan upacara yang melambangkan keindahan, kemakmuran, dan doa bagi kehidupan rumah tangga pasangan pengantin.
Pembuatan Air Guci juga mencerminkan nilai gotong royong dan pewarisan pengetahuan antargenerasi. Keterampilan menyusun motif, menjahit kepingan logam, serta memilih komposisi warna biasanya diwariskan dari orang tua kepada anak atau melalui kelompok-kelompok perajin. Proses tersebut memperkuat hubungan sosial sekaligus menjaga keberlangsungan pengetahuan tradisional masyarakat Banjar.
Selain sebagai identitas budaya, Air Guci menjadi simbol kreativitas perempuan Banjar dalam menghasilkan karya seni yang memadukan ketelitian, kesabaran, dan kehalusan rasa estetika. Pengerjaan satu lembar Air Guci membutuhkan waktu yang cukup lama karena setiap kepingan logam dipasang secara manual sehingga menghasilkan pola yang rapi dan simetris.
Dalam perkembangan masyarakat modern, Air Guci juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya lokal. Berbagai pelatihan, pameran, festival budaya, dan kegiatan ekonomi kreatif menjadikan Air Guci semakin dikenal oleh masyarakat luas. Keterlibatan perajin, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan turut memperkuat eksistensi Air Guci sebagai bagian dari identitas budaya Banjar.
Fungsi utama Air Guci adalah sebagai kerajinan hias tradisional yang memperindah berbagai perlengkapan adat masyarakat Banjar. Dalam upacara perkawinan, Air Guci digunakan sebagai dekorasi pelaminan, tabir pengantin, alas duduk, bantal adat, dan berbagai perlengkapan lain yang memberikan kesan megah dan sakral pada prosesi adat.
Selain fungsi estetis, Air Guci juga memiliki fungsi simbolik. Motif-motif bunga, sulur, dan ragam hias Banjar yang disusun pada kain melambangkan harapan akan kehidupan yang harmonis, kesejahteraan, keindahan, serta keberkahan bagi pemiliknya. Oleh karena itu, Air Guci sering digunakan pada peristiwa-peristiwa penting yang memiliki nilai budaya tinggi.
Dalam bidang pendidikan, Air Guci menjadi media pembelajaran mengenai teknik kerajinan tradisional, seni rupa, desain motif, dan nilai-nilai budaya Banjar. Kegiatan pelatihan bagi generasi muda tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkenalkan filosofi motif serta sejarah perkembangan kerajinan tradisional Banjar.
Di sektor ekonomi kreatif, Air Guci berkembang menjadi produk unggulan kerajinan Kalimantan Selatan. Selain digunakan sebagai perlengkapan adat, Air Guci kini diaplikasikan pada berbagai produk seperti hiasan dinding, kaligrafi, tas, dompet, sarung bantal, taplak meja, busana, aksesori, hingga suvenir khas daerah. Diversifikasi produk tersebut membuka peluang usaha bagi para perajin sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.
Air Guci juga berfungsi sebagai media promosi budaya daerah. Produk-produk Air Guci sering ditampilkan dalam pameran kerajinan, festival budaya, promosi pariwisata, dan kegiatan diplomasi budaya yang memperkenalkan kekayaan seni kriya Banjar kepada masyarakat nasional maupun internasional. Dengan demikian, Air Guci tidak hanya menjadi benda kerajinan, tetapi juga representasi identitas budaya Kalimantan Selatan.
Sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Air Guci memiliki fungsi penting dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan tradisional masyarakat Banjar. Melalui pewarisan keterampilan, inovasi produk, pembinaan perajin, dan pemanfaatan dalam berbagai kegiatan budaya, Air Guci terus berkembang sebagai karya budaya yang memiliki nilai sejarah, estetika, sosial, pendidikan, dan ekonomi. Keberadaannya menjadi bukti kreativitas masyarakat Banjar dalam mengolah bahan sederhana menjadi karya seni yang bernilai tinggi sekaligus memperkuat jati diri budaya Kalimantan Selatan.
Lokasi & Persebaran
Air Guci berkembang terutama di kalangan masyarakat Banjar Kuala yang bermukim di Kota Banjarmasin dan wilayah sekitarnya. Tradisi pembuatan dan penggunaan Air Guci kemudian menyebar ke berbagai daerah di Provinsi Kalimantan Selatan.
Upaya Pelestarian
1. Pelindungan
Pelindungan Air Guci dilakukan melalui berbagai upaya untuk menjaga keberadaan, keaslian, dan keberlanjutan kerajinan tradisional ini agar tidak mengalami kepunahan maupun kehilangan nilai budayanya. Upaya pelindungan meliputi:
• Inventarisasi dan pendokumentasian teknik pembuatan Air Guci, motif, ragam hias, alat, bahan, serta proses produksinya dalam bentuk tulisan, foto, video, dan arsip digital.
• Penetapan Air Guci sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016 sebagai bentuk pengakuan dan perlindungan negara terhadap warisan budaya masyarakat Banjar.
• Pendataan perajin, sanggar, kelompok usaha, dan komunitas yang masih aktif memproduksi Air Guci di Kalimantan Selatan.
• Perlindungan terhadap motif tradisional Air Guci melalui pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Komunal untuk mencegah penyalahgunaan dan klaim oleh pihak lain.
• Dokumentasi pengetahuan tradisional mengenai teknik penyusunan kepingan logam, penyulaman, serta filosofi motif-motif khas Banjar.
• Pelestarian peralatan tradisional dan contoh karya Air Guci sebagai koleksi museum maupun pusat dokumentasi kebudayaan.
2. Pengembangan
Pengembangan Air Guci dilakukan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai tradisional dan identitas budaya Banjar. Bentuk pengembangan antara lain:
• Pengembangan desain dan motif baru yang tetap mengacu pada ragam hias tradisional Banjar.
• Diversifikasi produk Air Guci menjadi busana, aksesori, tas, dompet, hiasan dinding, suvenir, dekorasi interior, serta produk ekonomi kreatif lainnya.
• Pengembangan teknik pemasaran melalui platform digital, media sosial, dan perdagangan elektronik (e-commerce).
• Penyelenggaraan pameran, festival, dan lomba kerajinan sebagai media apresiasi dan inovasi bagi para perajin.
• Penelitian akademik mengenai sejarah, teknik, motif, dan nilai budaya Air Guci sebagai dasar pengembangan berbasis ilmu pengetahuan.
• Kolaborasi antara perajin, desainer, akademisi, pelaku ekonomi kreatif, dan pemerintah dalam menghasilkan produk yang inovatif dan berdaya saing.
3. Pemanfaatan
Pemanfaatan Air Guci dilakukan untuk meningkatkan nilai sosial, budaya, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi sehingga keberadaannya memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Bentuk pemanfaatannya meliputi:
• Penggunaan Air Guci sebagai dekorasi utama dalam upacara adat perkawinan Banjar dan berbagai kegiatan adat lainnya.
• Pemanfaatan sebagai materi pembelajaran pada pendidikan formal maupun nonformal mengenai seni kriya dan budaya Banjar.
• Menjadikan Air Guci sebagai produk unggulan ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Selatan.
• Pemanfaatan dalam promosi pariwisata budaya melalui pameran, festival daerah, dan kegiatan diplomasi budaya.
• Penggunaan Air Guci sebagai cendera mata (suvenir) khas Kalimantan Selatan bagi tamu pemerintah, wisatawan, maupun masyarakat umum.
• Pemanfaatan sebagai media edukasi di museum, galeri, taman budaya, dan pusat informasi kebudayaan untuk memperkenalkan kerajinan tradisional Banjar kepada generasi muda.
4. Pembinaan
Pembinaan Air Guci dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas perajin sekaligus menjamin regenerasi pelaku budaya. Bentuk pembinaan meliputi:
• Pelaksanaan pelatihan dan workshop teknik pembuatan Air Guci bagi generasi muda dan masyarakat.
• Pembinaan kelompok perajin melalui pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, dan penguatan kelembagaan.
• Fasilitasi keikutsertaan perajin dalam pameran, festival, dan promosi produk di tingkat daerah maupun nasional.
• Pemberian bantuan peralatan, bahan baku, dan dukungan pemasaran kepada perajin Air Guci.
• Kerja sama antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan pelaku industri kreatif dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
• Pemberian penghargaan kepada maestro dan perajin berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dalam melestarikan Air Guci.
• Mendorong regenerasi melalui kegiatan ekstrakurikuler, sanggar seni, pelatihan vokasi, dan program pembelajaran berbasis budaya lokal di sekolah.
Pelindungan Air Guci dilakukan melalui berbagai upaya untuk menjaga keberadaan, keaslian, dan keberlanjutan kerajinan tradisional ini agar tidak mengalami kepunahan maupun kehilangan nilai budayanya. Upaya pelindungan meliputi:
• Inventarisasi dan pendokumentasian teknik pembuatan Air Guci, motif, ragam hias, alat, bahan, serta proses produksinya dalam bentuk tulisan, foto, video, dan arsip digital.
• Penetapan Air Guci sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016 sebagai bentuk pengakuan dan perlindungan negara terhadap warisan budaya masyarakat Banjar.
• Pendataan perajin, sanggar, kelompok usaha, dan komunitas yang masih aktif memproduksi Air Guci di Kalimantan Selatan.
• Perlindungan terhadap motif tradisional Air Guci melalui pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Komunal untuk mencegah penyalahgunaan dan klaim oleh pihak lain.
• Dokumentasi pengetahuan tradisional mengenai teknik penyusunan kepingan logam, penyulaman, serta filosofi motif-motif khas Banjar.
• Pelestarian peralatan tradisional dan contoh karya Air Guci sebagai koleksi museum maupun pusat dokumentasi kebudayaan.
2. Pengembangan
Pengembangan Air Guci dilakukan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai tradisional dan identitas budaya Banjar. Bentuk pengembangan antara lain:
• Pengembangan desain dan motif baru yang tetap mengacu pada ragam hias tradisional Banjar.
• Diversifikasi produk Air Guci menjadi busana, aksesori, tas, dompet, hiasan dinding, suvenir, dekorasi interior, serta produk ekonomi kreatif lainnya.
• Pengembangan teknik pemasaran melalui platform digital, media sosial, dan perdagangan elektronik (e-commerce).
• Penyelenggaraan pameran, festival, dan lomba kerajinan sebagai media apresiasi dan inovasi bagi para perajin.
• Penelitian akademik mengenai sejarah, teknik, motif, dan nilai budaya Air Guci sebagai dasar pengembangan berbasis ilmu pengetahuan.
• Kolaborasi antara perajin, desainer, akademisi, pelaku ekonomi kreatif, dan pemerintah dalam menghasilkan produk yang inovatif dan berdaya saing.
3. Pemanfaatan
Pemanfaatan Air Guci dilakukan untuk meningkatkan nilai sosial, budaya, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi sehingga keberadaannya memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Bentuk pemanfaatannya meliputi:
• Penggunaan Air Guci sebagai dekorasi utama dalam upacara adat perkawinan Banjar dan berbagai kegiatan adat lainnya.
• Pemanfaatan sebagai materi pembelajaran pada pendidikan formal maupun nonformal mengenai seni kriya dan budaya Banjar.
• Menjadikan Air Guci sebagai produk unggulan ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Selatan.
• Pemanfaatan dalam promosi pariwisata budaya melalui pameran, festival daerah, dan kegiatan diplomasi budaya.
• Penggunaan Air Guci sebagai cendera mata (suvenir) khas Kalimantan Selatan bagi tamu pemerintah, wisatawan, maupun masyarakat umum.
• Pemanfaatan sebagai media edukasi di museum, galeri, taman budaya, dan pusat informasi kebudayaan untuk memperkenalkan kerajinan tradisional Banjar kepada generasi muda.
4. Pembinaan
Pembinaan Air Guci dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas perajin sekaligus menjamin regenerasi pelaku budaya. Bentuk pembinaan meliputi:
• Pelaksanaan pelatihan dan workshop teknik pembuatan Air Guci bagi generasi muda dan masyarakat.
• Pembinaan kelompok perajin melalui pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, dan penguatan kelembagaan.
• Fasilitasi keikutsertaan perajin dalam pameran, festival, dan promosi produk di tingkat daerah maupun nasional.
• Pemberian bantuan peralatan, bahan baku, dan dukungan pemasaran kepada perajin Air Guci.
• Kerja sama antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan pelaku industri kreatif dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
• Pemberian penghargaan kepada maestro dan perajin berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dalam melestarikan Air Guci.
• Mendorong regenerasi melalui kegiatan ekstrakurikuler, sanggar seni, pelatihan vokasi, dan program pembelajaran berbasis budaya lokal di sekolah.
Pihak Terkait
Komunitas / Organisasi:
• Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Selatan.
• Dekranasda Kota Banjarmasin.
• Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan.
• UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan.
• Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin.
• Kelompok Perajin Air Guci Kota Banjarmasin.
• Perajin Air Guci di Kampung Sasirangan, Kota Banjarmasin.
• Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Selatan.
• Dekranasda Kota Banjarmasin.
• Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan.
• UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan.
• Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin.
• Kelompok Perajin Air Guci Kota Banjarmasin.
• Perajin Air Guci di Kampung Sasirangan, Kota Banjarmasin.
Guru Budaya / Maestro:
Risna Apriliyana (Iin)
Risna Apriliyana (Iin)
Galeri