Badewa

Badewa

Adat Istiadat, Ritus & Perayaan Kab. Barito Kuala

Identifikasi & Definisi

Definisi dan Identifikasi Karya Budaya

Badewa adalah sebuah bentuk karya budaya nonbendawi berupa ritual penyembuhan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Dayak, khususnya yang tinggal di wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan seperti di Kabupaten Barito Kuala (Batola). Badewa merupakan perpaduan antara pengobatan tradisional, kepercayaan spiritual, dan ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun. Istilah ini juga dikenal dengan Batatamba dalam Bahasa banjar.
Ritual ini dipimpin oleh seorang dukun atau balian, yaitu tokoh adat yang memiliki kemampuan spiritual untuk berinteraksi dengan roh leluhur, mengusir roh jahat, dan mengembalikan keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan alam semesta.

Sebagai karya budaya, Badewa termasuk ke dalam kategori warisan budaya takbenda (WBTb) dalam bidang keterampilan dan kebiasaan masyarakat dalam merawat kesehatan tradisional, yang sarat dengan nilai filosofis dan spiritual.

Aspek Kesejarahan

Badewa tumbuh dari kepercayaan animisme dan dinamisme masyarakat Dayak, jauh sebelum masuknya agama-agama besar ke Kalimantan. Kepercayaan ini meyakini bahwa setiap makhluk hidup, benda mati, dan gejala alam memiliki roh yang bisa berpengaruh terhadap kehidupan manusia.

Dalam tradisi Dayak, penyakit tidak hanya berasal dari faktor fisik, tetapi juga bisa timbul akibat ketidakseimbangan spiritual, pelanggaran adat, atau gangguan makhluk halus. Oleh karena itu, pengobatan tidak cukup dengan ramuan herbal saja, tetapi harus dilakukan dengan ritual penyembuhan seperti Badewa untuk menenangkan atau mengusir roh yang dianggap menyebabkan sakit.
Pengobatan Badewa berasal dari kepercayaan dan sistem nilai spiritual Masyarakat suku Dayak Bakumpai (bagian dari rumpun Dayak ngaju) yang mendiami wilayah Kabupaten Barito kuala.

Sebelum masuknya islam dan Kristen, Masyarakat Dayak menganut agama lokal Bernama kaharingan (sebuah sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Dalam kaharingan, diyakini bahwa roh-roh leluhur, alam dan makhluk halus bisa mempengaruhi kehidupan manusia, termasuk menyebabkan atau menyembuhkan penyakit. Badewa muncul sebagai bentuk ritual komuikasi dengan roh leluhur dan makhluk halus untuk memohon kesembuhan atau membuang energi negatif (sakit).
Dikisahkan dalam narasi lisan (folklor), para nenek moyang Bakumpai dulunya mendapat ilmu pengobatan dari roh leluhur atau makhluk gaib di alam gaib (biasa disebut lewu tatau atau dunia atas). Orang-orang tertentu yang memiliki karisma spiritual disebut Pandewa yang biasa menjadi media antara manusia dan roh karena dianggap telah “terpilih” atau turunan dari para penyembuh.

Sebagian penyakit diyakini berasal dari serangan makhluk gaib (seperti santet, guna-guna, atau roh gaib yang mengganggu). Pengobatan medis dianggap tak bisa menyembuhkan gangguan seperti ini. Oleh karena itu, Masyarakat menciptakan Badewa sebagai cara untuk “meyelaraskan Kembali” Hubungan antara manusia dan dunia gaib.
Ritual Badewa telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad, terutama dalam masyarakat pedalaman yang bergantung penuh pada pengetahuan lokal untuk menjaga kesehatan. Hingga kini, praktik Badewa masih lestari di beberapa komunitas Dayak sebagai simbol identitas dan kontinuitas budaya.

Aspek Sosial

Secara sosial, Badewa memiliki kedudukan penting dalam struktur komunitas adat Dayak. Ritual ini tidak hanya menjadi media penyembuhan individu, tetapi juga berfungsi sebagai sarana penguatan solidaritas sosial. Masyarakat sekitar biasanya akan berkumpul untuk menyaksikan atau mendukung jalannya ritual, baik melalui iringan musik tradisional, doa bersama, maupun bantuan logistik seperti penyediaan sesajen.

Peran dukun atau balian juga menempati posisi sosial yang tinggi sebagai pemimpin spiritual dan penjaga nilai-nilai adat. Ia tidak hanya dianggap sebagai penyembuh, tetapi juga penentu keputusan dalam persoalan adat dan spiritual masyarakat.
Melalui Badewa, nilai-nilai sosial seperti gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, dan hubungan manusia dengan alam terus ditanamkan dan dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Fungsi dalam Masyarakat

Badewa memiliki beberapa fungsi utama dalam kehidupan masyarakat Dayak, yaitu:
a. Fungsi Penyembuhan
Fungsi utama Badewa adalah sebagai sarana pengobatan tradisional. Pasien yang mengalami gangguan fisik atau spiritual akan menjalani proses penyembuhan melalui mantra, ramuan herbal, gerakan ritmis, dan musik tradisional yang membangun suasana transendental. Penyakit dipandang tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga spiritual, sehingga proses penyembuhan bersifat holistik.

b. Fungsi Spiritualitas dan Religius
Ritual ini berfungsi sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan dunia roh atau leluhur. Melalui Badewa, masyarakat memohon perlindungan, pembersihan jiwa, dan pengampunan atas kesalahan yang mungkin dilakukan terhadap adat atau makhluk halus.

c. Fungsi Sosial dan Budaya
Badewa memperkuat ikatan sosial antaranggota masyarakat. Saat ritual berlangsung, komunitas berkumpul dan berpartisipasi dalam kegiatan kolektif yang mempererat hubungan antarwarga. Badewa juga menjadi media transmisi budaya karena anak-anak dan generasi muda bisa belajar langsung tentang nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.

d. Fungsi Edukasi dan Pelestarian Budaya
Ritual Badewa menjadi sarana pendidikan nonformal yang mengajarkan filosofi hidup Dayak seperti keseimbangan alam, penghormatan terhadap leluhur, serta pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan roh. Ia juga menjadi simbol identitas budaya yang terus diwariskan sebagai bentuk perlawanan terhadap homogenisasi budaya luar.

Unsur-Unsur dalam Badewa

Badewa terdiri dari berbagai unsur budaya yang saling terkait, antara lain:
- Musik Tradisional: Gendang, gong, dan suling digunakan untuk mengiringi ritus, menciptakan atmosfer sakral dan membantu proses trans.
- Tarian dan Gerakan Ritual: Dukun atau penari ritual melakukan gerakan tertentu yang memiliki makna simbolik, seperti mengusir roh jahat atau menyambut roh leluhur.
- Sesajen: Berupa makanan, sirih-pinang, telur, dan terkadang hewan korban, sebagai persembahan bagi roh yang dihormati.
- Mantra dan Doa: Diucapkan untuk membuka komunikasi spiritual serta memohon kesembuhan dan keselamatan.
- Ramuan Herbal: Menggunakan tanaman obat lokal yang berfungsi sebagai media penyembuh alami.
- Pelaksanaan : pemanggilan roh melalui mantra dan musik sampai salah satu anggota yang disebut pandewa akan dirasuki atau kesurupan roh yang bersemayam di dalam diri pandewa sehingga pandewa akan melakukan proses penyembuhan dengan membimbing pemakaian obat tradisional dan ritual lainnya.

Dalam ritual badewa, 41 wadai (kue/sesajen) memiliki makna simbolis dan spiritual yang sangat penting. Jumlah dan ragamnya bukan sekedar makanan melainkan bagian dari “atur dahar” : memberi makan roh-roh halus agar tidak mengganggu manusia.
Makna simbolik 41 wadai dalam badewa:
1. menghormati makhluk halus : 41 jenis wadai disajikan sebagai bentuk penghormatan dan “makan Bersama” bagi roh gaib agar mereka merasa diberi dan tidak mengganggu kehidupan manusia.
2. angka sakral banjar : Angka 41 berasal dari tradisi Kesultanan Banjar sejak abad 16, dianggap suci dalam acara adat seperti pernikahan, tujuh bulanan, ritual mandi-mandi dan Badewa.
3. Ragam budaya dan pangan lokal : 41 jenis wadai memperlihatkan kekayaan kuliner banjar yang semuanya mempunyai filosofi dan aturan pantang tersendiri.
4. Makna warna dalam wadai 41 : empat warna utama dalam wadai (merah, putih, hijau, kuning) punya symbol yang penting diantaranya :
a. warna merah menyimbolkan darah, keberanian dan kehidupan
b. warna putih melambangkan kesucian batin
c. warna hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran
d. warna kuning mempresentasikan kemuliaan dan keagungan yang juga bisa dianggap keramat.
Warna-warna tersebut dipercaya menyelaraskan hubungan spiritual antara manusia dan roh, serta mencerminkan aspek-aspek kehidupan yang diharapkan.
Makna Simbolik 41 Wadai dalam Ritual Badewa

Dalam ritual Badewa, 41 wadai (kue/sajen) bukanlah sekadar jamuan makanan, melainkan bagian inti dari prosesi atur dahar atau pemberian makan kepada roh leluhur dan makhluk halus. Kehadiran 41 wadai diyakini menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan dunia gaib.
1. Penghormatan kepada Roh dan Leluhur
a. 41 wadai berfungsi sebagai “makanan bersama” antara manusia dan roh. Filosofinya, roh halus yang diberi jamuan akan merasa dihargai sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia.
b. Tindakan ini melambangkan sikap handak damai (ingin berdamai) antara manusia dengan kekuatan supranatural.

2. Angka Sakral 41
a. Angka 41 sudah dianggap keramat sejak masa Kesultanan Banjar abad ke-16. Angka ini kerap muncul dalam berbagai ritual: baayun anak, tujuh bulanan, mandi-mandi, dan juga Badewa.
b. Filosofinya: 40 melambangkan jumlah hari masa penyucian atau perjalanan spiritual manusia (misalnya dalam tradisi haul 40 hari orang meninggal), sedangkan angka tambahan “1” menyimbolkan kesempurnaan, keutuhan, dan doa agar manusia menyatu dengan kehendak Tuhan.

3. Ragam Budaya dan Pangan Lokal
a. Ke-41 jenis wadai dibuat dari bahan-bahan lokal: beras ketan, pisang, kelapa, gula merah, tepung, dan umbi-umbian. Hal ini menunjukkan betapa kayanya sumber pangan tradisional masyarakat Banjar-Dayak.
b. Setiap kue punya makna sendiri:
Kue apam: lambang doa agar rezeki dan umur “mengapam” (berkembang dan melebar).
Kue cucur: melambangkan rezeki yang mengalir seperti minyak cucur.
Kue bingka: perlambangan kelembutan hati dan kerukunan.
Wadai pisang: simbol kesuburan dan keberlanjutan generasi.
c. Dengan demikian, 41 wadai adalah ensiklopedia mini kearifan pangan lokal sekaligus sarana pewarisan filosofi hidup.

4. Makna Warna (Merah, Putih, Hijau, Kuning)
a. Merah: darah, semangat hidup, keberanian menghadapi cobaan.
b. Putih: kesucian hati, niat yang murni, pembersihan batin.
c. Hijau: kesuburan alam, kemakmuran, kesejukan jiwa.
d. Kuning: kemuliaan, wibawa, dan kekuatan sakral.
Warna-warna ini juga merepresentasikan empat arah mata angin dalam kosmologi Banjar-Dayak, yang menyimbolkan keselarasan antara manusia dan jagat raya.

5. Keselarasan Kosmos dan Sosial
a. 41 wadai tidak hanya untuk roh, tapi juga dikonsumsi bersama oleh peserta ritual setelah prosesi. Hal ini menandakan makan bersama yang mengikat solidaritas sosial.
b. Penyajian wadai diatur secara melingkar atau berlapis, melambangkan harmoni kosmos: hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan manusia dengan sesama (horizontal).

6. Tantangan dan Upaya Pelestarian
Dalam era modern, praktik Badewa menghadapi tantangan besar akibat perubahan gaya hidup, pengaruh agama luar, dan kurangnya minat generasi muda terhadap budaya leluhur. Beberapa masyarakat mulai meninggalkan praktik ini karena dianggap kuno atau bertentangan dengan ajaran baru.
Namun demikian, upaya pelestarian terus dilakukan oleh komunitas adat dan instansi kebudayaan, seperti melalui: Dokumentasi ritual dalam bentuk video atau tulisan, Workshop dan pelatihan kepada generasi muda, Pengajuan Badewa sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke pemerintah daerah atau pusat, Penyelenggaraan festival budaya yang mengangkat ritual Badewa sebagai bagian dari identitas lokal.

Deskripsi Karya Budaya: Ritual Badewa pada Masyarakat Dayak Bakumpai
Ritual Badewa merupakan salah satu tradisi pengobatan tradisional yang hidup di kalangan masyarakat Dayak Bakumpai, khususnya di Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala. Tradisi ini berfungsi sebagai media penyembuhan penyakit melalui doa, mantra, musik panting, dan tarian ritual.
Menurut penelitian Imam Qalyubi (2012), Badewa merupakan warisan sistem kepercayaan animisme pra-Islam yang kemudian berakulturasi dengan pengaruh Islam. Hal ini sejalan dengan pendapat Koentjaraningrat (2009:67) bahwa sistem religi tradisional berfungsi bukan hanya sebagai sarana pengobatan, melainkan juga untuk memperkuat solidaritas sosial masyarakat.

Pelaksanaan Badewa biasanya dipimpin oleh seorang pamedewaan (pemimpin ritual) yang dianggap memiliki kemampuan spiritual. Prosesi ini menggunakan alat musik tradisional seperti panting, tabuhan gendang, dan gong, yang mengiringi nyanyian doa serta mantra. Ritual dilakukan secara berkelompok, dengan gerakan tari melingkar, yang dimaknai sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan roh leluhur.
Berdasarkan wawancara dengan H. Idrus seorang maestro Badewa di Alalak, Marabahan (25 Maret 2018), tradisi ini diyakini mampu menyembuhkan penyakit yang tidak bisa diatasi secara medis. Ia menekankan bahwa kekuatan Badewa terletak pada keselarasan doa, musik, dan keyakinan kolektif masyarakat. Dengan demikian, Badewa tidak hanya menjadi sarana pengobatan, tetapi juga memperkokoh identitas budaya Dayak Bakumpai.

Lokasi & Persebaran

Kabupaten Barito Kuala

Upaya Pelestarian

A. Perlindungan
Pemerintah dan pemerintah daerah perlu mengambil langkah untuk:
Mendata dan mendokumentasikan praktik Badewa secara tertulis, visual, dan audio
Menetapkan Badewa sebagai bagian dari data pokok kebudayaan daerah dan nasional.
Memberi perlindungan hukum kepada pelaku budaya seperti dukun atau balian dari diskriminasi atau kehilangan hak adatnya.

B. Pengembangan
Penelitian dan kajian ilmiah terhadap filosofi, teknik pengobatan, dan unsur budaya dalam Badewa.
Inovasi berkelanjutan dengan tetap menjaga nilai-nilai lokal (misalnya, mengajarkan Badewa di sanggar budaya atau sekolah adat).

C. Pemanfaatan
Integrasi Badewa dalam program wisata budaya lokal atau festival daerah (dengan tetap menjaga kesakralan).
Mendorong ekonomi kreatif berbasis budaya lokal, seperti pembuatan dokumenter, kerajinan, atau publikasi ilmiah terkait Badewa.

D. Pembinaan
Pemerintah daerah bekerja sama dengan komunitas adat untuk:
- Menghidupkan kembali praktik Badewa secara reguler di komunitas Dayak.
- Memberikan pendidikan budaya kepada generasi muda melalui pelatihan atau kegiatan budaya berbasis komunitas. Menyediakan fasilitasi sarana dan dana bagi pelaku budaya agar praktik ini tidak punah.

Pihak Terkait

Komunitas / Organisasi:
Sinar Pusaka
Guru Budaya / Maestro:
H. Abdul Karim Zaidan, M.Pd. (40 Tahun)

Galeri

Dokumenter Badewa (Temu Pardewa 3 - The Art of Healing from Bakumpai, South Kalimantan)

Referensi

Pelaku (Saksi Sejarah yang masih Hidup):
1. Hj. Madiati
2. Hj. Jannah
3. H. Iberahim

Imam Qalyubi (2012) "Suku Bakumpai, Sebuah Pergulatan Identitas antara Dayak dan Melayu, Sebuah Tinjauan Budaya dan Linguistik" Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol. 6 No. 2, Desember 2012, hlm. 67—menjelaskan asal-usul dan karakter budaya Dayak Bakumpai dan ada penjelasan tentang Badewa sebagai praktik animistik yang berakulturasi dengan Islam.

abengan Online (2024) Artikel “BADewa, Ritual Masyarakat Dayak” menyebut durasi ritual (bisa mencapai 40 malam), serta cara pemanggilan roh leluhur melalui pandewa sebagai sarana penyembuhan.

Misra & Sadikin (2021) “Nilai-nilai ekonomi Islam dalam tradisi malan masyarakat Dayak Bakumpai”, Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol. 17 No. 1, hlm. 72–82 — membahas aspek sosio-ekonomi tradisi Malan (pertanian) dalam komunitas Bakumpai.

Ahmad Razikin Wijaya dkk. (2023) “Upacara Kematian Suku Dayak Bakumpai di Kelurahan Muara Tuhup” (Skripsi) menjelaskan ritual pemakaman di komunitas Bakumpai.

H. Idrus – Maestro ritual Badewa (pamedewaan). Disebut dalam Bab III skripsi sebagai tokoh utama yang memahami dan memimpin ritual. Usia tidak disebut secara eksplisit, hanya disebut sebagai “tokoh sepuh”.